5 (Lima) Risiko Pemilik Kendaraan Jika Parkir Sembarangan

5 (Lima) Risiko Pemilik Kendaraan Jika Parkir Sembarangan

5 (Lima) Risiko Pemilik Kendaraan Jika Parkir Sembarangan

Indonesia adalah salah satu pasar otomotif terbesar di dunia. Sebagian besar penduduk Indonesia punya kendaraan bermotor baik mobil maupun motor bahkan tidak sedikit yang punya lebih dari satu kendaraan pribadi di garasinya. Sayangnya, tidak semua pemilik dan pengendara kendaraan bermotor paham tentang aturan dan etika parkir yang baik dan benar.

Padahal parkir sembarangan tidak hanya beresiko mengganggu kenyamanan orang lain namun juga bisa melanggar hukum. Menurut Bapak Ponyan selaku ‎General Manager Operational (luar Jabodetabek) PT. CentrePark Citra Corpora, berikut ini adalah resiko jika parkir sembarangan.

  • Melanggar hukum pidana 

Dinas Perhubungan memiliki peraturan hukum yang melarang kendaraan untuk diparkir di pinggir jalan meski tidak ada rambu P dicoret. Peraturan larangan tersebut tercantum dalam UU 22 tahun 2009 mengenai Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan. Sedangkan untuk sanksinya terdapat pada UU LLAJ yang antara lain menyebutkan hukuman kurungan pidana selama maksimal satu bulan dan denda maksimal Rp. 250.000.

  • Mobil akan diderek Dinas Perhubungan

Dinas Perhubungan selaku badan yang berwenang mengenai menjaga tata tertib lalu lintas memiliki wewenang untuk melakukan penderekan pada kendaraan yang diparkir sembarangan. Kendaraan yang berhenti atau parkir di tempat yang bukan tempatnya akan dilakukan penderekan dan dibawa ke area parkir yang sudah tersedia atau dibawa ke tempat penyimpanan kendaraan bermotor sesuai dengan aturan daerah masing-masing. Petugas berhak melakukan penderekan apabila pemilik kendaraan parkir sembarangan tidak kembali setelah 15 menit kendaraan diparkir di tempat tersebut.

  • Mengganggu operasional jalan 

Ada alasannya mengapa parkir di pinggir jalan dilarang dan diatur dalam undang-undang. Bahu jalan memiliki fungsi yang penting meski sekilas terlihat biasa saja. Bahu jalan memiliki fungsi sebagai tempat menepikan kendaraan yang mengalami kerusakan di jalan sehingga kendaraan tidak berada di tengah jalan dan mengganggu kendaraan lainnya. Bahu jalan juga digunakan untuk kendaraan darurat seperti kendaraan polisi, ambulance, pemadam kebakaran, dan kondisi darurat lainnya.

  • Gugatan hukum perdata 

Memarkir kendaraan di depan gerbang atau pintu rumah orang lain bisa digugat secara perdata apalagi jika sampai menimbulkan kerugian yang tidak kecil. Merujuk pada aturan KUHPer pasal 671 yang menyatakan jalan setapak, lorong, jalan besar milik bersama yang digunakan sebagai jalan keluar bersama tidak boleh digunakan di luar tujuan keperluan dari jalan tersebut. Kemudian KUHPer pasal 1365 menyatakan bahwa tindakan yang melanggar hukum dan menimbulkan kerugian wajib diganti rugi oleh orang yang menyebabkan kerugian tersebut.

  • Perusakan kendaraan 

Sudah banyak contoh kasusnya bagi kendaraan yang parkir tidak pada tempatnya misalnya di pinggir jalan, di depan rumah orang, di tempat parkir bagi penyandang disabilitas dan berkebutuhan khusus, maka hukuman sosial akan diterimanya. Contohnya seperti angin ban yang dikosongkan, mobil yang dicoret-coret, dan sebagainya.