Jenis Pelanggaran Yang Dideteksi E-Tilang Dan Denda Yang Harus Ditanggung

Jenis Pelanggaran Yang Dideteksi E-Tilang Dan Denda Yang Harus Ditanggung

Jenis Pelanggaran Yang Dideteksi E-Tilang Dan Denda Yang Harus Ditanggung

Dalam upaya meningkatkan kedisiplinan para pengguna kendaraan serta mengurangi terjadinya pelanggaran yang bersangkutan dengan tilang, maka pemberlakuan tilang elektronik khususnya di Kota Jakarta semakin diperketat pada tahun 2021 ini. Hal tersebut telah dibuktikan dengan adanya pengajuan 50 kamera tilang elektronik (Electronic Traffic Law Enforcement/ETLE) tambahan pada pemerintah di provinsi setempat.

Dengan penerapan aturan tersebut, maka akan lebih mudah dilakukan pemantauan pada siapa saja pengendara yang sudah melanggar aturan saat sedang berkendara di jalan. Jika pengendara sudah terekam, maka mereka harus menerima konsekuensinya berupa pemberian surat tilang.

Tujuan Diberlakukannya Tilang Elektronik

Diberlakukannya tilang elektronik atau e-tilang tidak terlepas dari tujuan yang hendak dicapai. Di mana untuk meningkatkan keselamatan serta ketertiban seluruh masyarakat ketika sedang berkendara di jalan. 

Selain itu, tilang elektronik juga bertujuan untuk meningkatkan sikap disiplin para pengendara dalam berlalu lintas yang ditekankan pada fatalitas korban kecelakaan lalu lintas. Dan yang tidak kalah penting, pemberlakuan tilang elektronik juga upaya untuk bisa mengurangi kemacetan.

Jenis-Jenis Pelanggaran Yang Bisa Dideteksi Dengan E-Tilang

Berikut adalah beberapa jenis pelanggaran yang bisa terdeteksi dengan menggunakan e-tilang yang perlu Anda ketahui.

  1. Pelanggaran ganjil-genap
  2. Pelanggaran marka dan rambu jalan
  3. Pelanggaran batas kecepatan
  4. Kesalahan jalur
  5. Kelebihan daya angkut dan dimensi
  6. Menerobos lampu merah
  7. Melawan arus
  8. Mengemudi dengan kecepatan melebihi batas
  9. Tidak menggunakan helm
  10. Tidak menggunakan sabuk pengaman
  11. Menggunakan ponsel saat sedang berkendara.

Isi Peraturan Dalam E-Tilang

Tilang elektronik atau e-tilang ini berdasarkan pada UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 287 ayat 1. Jika diketahui telah melakukan pelanggaran sesuai dengan jenis-jenis pelanggaran yang telah disebutkan sebelumnya, maka denda maksimal yang akan dikenakan adalah sebesar Rp 500 ribu.

Hal yang membedakan sistem e-tilang dengan sistem konvensional pada umumnya adalah Anda tidak perlu menyerahkan SIM maupun STNK untuk dilakukan penyitaan oleh pihak berwajib. 

Nantinya Anda akan mendapatkan surat tilang elektronik yang dikirimkan ke alamat Anda setelah pihak berwajib melakukan verifikasi kendaraan yang sudah melanggar. Biasanya hal ini dilakukan tiga hari setelah pelanggaran Anda terekam dan juga akan dikirimkan foto sebagai bukti dari pelanggaran Anda. 

Untuk pembayaran denda, Anda akan mendapatkan slip pembayaran denda yang sesuai dengan sanksi pelanggaran disertai kode virtual account BRI untuk melakukan transfer denda tersebut. Pembayaran ini juga diberi batas waktu, yakni selama dua minggu setelah Anda mendapatkan slip tilang. Jika pembayaran tidak segera Anda lakukan, maka STNK Andalah yang akan diblokir dan baru bisa dibuka saat sudah memenuhi sidang tilang di Pengadilan Negeri. 

Tetapi perlu diketahui juga bahwa sidang ini juga dibatasi selama satu minggu saja setelah masa pembayaran tilang berakhir. Jika sidang tidak juga Anda penuhi, maka STNK yang sudah diblokir tersebut tidak bisa Anda aktifkan lagi setelah membayar denda. 

Jadi, bagi Anda yang tidak ingin terkena denda dari tilang elektronik atau e-tilang ini, maka patuhilah selalu peraturan lalu lintas yang sudah ditetapkan. Meskipun Anda tidak bisa melihat keberadaan polisi di jalanan, namun mata-mata berupa kamera CCTV terpasang di beberapa titik untuk memantau Anda. Sehingga, pelanggaran yang Anda lakukan bisa langsung terdeteksi untuk menjalani proses hukum selanjutnya.